Pay Foward to Others Around You
Pay Foward

By F-A-Sany 15 Des 2019, 21:57:34 WIB Inpirasi
Pay Foward to Others Around You

Keterangan Gambar : Pay foward to others around you


Untuk mengubah dunia, apa yang harus kita butuhkan? Ternyata untuk mengubah dunia, kita tidak harus menunggu untuk menjadi terkenal, tidak perlu memiliki kekuasaan, dan juga tidak membutuhkan harta yang berlimpah. Setidaknya itu yang ada di pikiran Trevor McKinney dalam filmnya yang berjudul “Pay It Forward”.

Film yang masuk 3 nominasi dan mendapatkan satu Academy Awards ini, memang syarat dengan nilai kehidupan. Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang film ini, siapa tahu Anda pernah menontonnya atau sudah mempunyai VCD/ DVD film ini di rumah Anda. Tetapi saya akan mengulas sedikit mengapa film ini bagus untuk dijadikan contoh pendidikan karakter untuk segala usia.

Film yang dirilis pada tahun 2000 ini menceritakan seorang anak usia 11 tahun, Trevor (Haley Joel Osment), yang mendapatkan tugas dari gurunya, Eugene Simonet (Kevin Spacey) untuk membuat sebuah proyek yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Trevor mendapatkan ide yang jenius, yaitu untuk mengubah dunia, yang diperlukan hanya kerelaannya untuk membantu orang lain yang selanjutnya disebut proyek “pay it forward”, sesuai judul film ini. Sejauh pengamatanku, pelaksanaan proyek “pay it forward” mirip dengan praktik dalam bisnis multi level marketing atau lebih popular dengan nama MLM. Yang harus dia lakukan cukup hanya berbuat baik kepada tiga orang, dan masing-masing yang ditolong, diharapkan dapat membalas kebaikannya kepada tiga orang lain, dan seterusnya, setiap orang yang menerima kebaikan diharapkan dapat pay it forward kepada tiga orang lainnya, sehingga perbuatan baik tersebut bisa tersebar luas.

Apakah ini suatu kemustahilan? Menurut Trevor, tidak! Memang, di film yang diadaptasi dari novel karya Catherine Ryan Hyde, Alur cerita untuk melakukan kebaikan tidak digambarkan secara mulus, tetapi penuh dengan rasa kesedihan, kekecewaan, dan akhirnya rasa kemenangan yang menyertai Trevor yang mempunyai komitmen agar proyek “pay it forward”-nya bisa berjalan. Bahkan, ia rela mengorbankan hidupnya sendiri demi keyakinannya akan ide “pay it forward”. Trevor boleh puas, walaupun ia tidak sempat melihatnya (baca : meninggal), apa yang dilakukannya ternyata telah mempunyai dampak yang sangat berarti, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik.

Secara pribadi, saya mendapatkan banyak pesan dari film ini.

Pesan pertama : Bayangkan kalau Anda menolong seseorang dan Anda katakan padanya untuk tidak membalasnya (pay it back), tetapi membalasnya kepada orang lain (pay it forward). Inilah pesan mendasar dari film ini yang digambarkan dengan alur cerita yang begitu menyentuh hati. Senantiasa berbuat baik tanpa pamrih memang memerlukan suatu sikap mental yang bertolak belakang dengan kebiasaan manusia sekarang. Mungkin banyak diantara kita tergerak untuk berbuat kebaikan karena ada alasan-alasan tertentu yang orientasi-nya untuk kepentingan diri juga. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, entah itu dalam bentuk materi atau non-materi. Apakah ini tidak baik?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita bisa mengambil contoh seorang Bill Gates. Dari produk Microsoft, Bill Gates mampu mendapatkan kekayaan mencapai 60 milyar dollar, yang bila dikonversi dalam rupiah mencapai sekitar 540 trilyun rupiah (hampir setara dengan hutang Negara Tercinta Indonesia sekitar 600 triliun rupiah pada awal krisis sekitar tahun 1998)! Dan itu hanya milik Bill Gates seorang (Andai Bill Gates dengan suka rela mau melunasi hutang Negara Indonesia, mungkin kita tidak sengsara seperti ini, semua serba mahal). Tetapi apa yang diciptakannya pada masyarakat dunia ratusan atau ribuan kali dari jumlah tersebut. Coba bayangkan apa yang terjadi, jika di dunia ini tidak ada seorang yang bernama Bill Gates dengan “Microsoft”-nya? Konon, 40% dari pendapatan Bill Gates disumbangkan untuk kemanusaiaan, betapa mulianya seorang Bill Gates! Inilah pesan kedua yang bisa saya ambil dari film tersebut.

Tidaklah salah ketika kita mengambil dari dunia setelah kita memberikan apa yang dapat kita berikan kepada dunia. Tetapi kebanyakan dari kita beranggapan, bahwa, setelah memberikan kepada dunia -kemudian dengan alasan ini-, kita bisa mengambil sebanyak-banyaknya dari dunia. Justru sikap semacam inilah yang membuat dunia bertambah rusak. Sikap rakus! Tentang rakus, saya teringat kata-kata arif Mahatma Gandhi: ”World is enough for people’s need but it’s never enough for man’s greed.”. Artinya, ketika kita men-Tuhan-kan sifat rakus, maka kita tidak akan bisa bersyukur walaupun seluruh bumi dan isinya sudah kita miliki. Lalu…..masih perlukah kita memelihara sifat rakus kita? Jika masih, maka kata yang paling tepat untuk kita adalah, kita akan lebih berguna….bila kita tidak pernah ada di dunia, karena keberadaan kita justru membuat dunia lebih rusak.

Agar tidak terjadi seperti di atas, maka kita perlu meningkatkan kualitas karakter kita dengan memberikan pertanyaan terus menerus kepada diri kita, “apakah perilaku kita mendatangkan nilai tambah (added value) atau kita membuat kerusakan (destroyed value) pada dunia? Apakah kita senantiasa ingin mengambil dari apa yang kita rasa dunia berhutang kepada kita, atau apakah kita selalu ingin “pay it forward”, karena kita merasa berhutang banyak kepada dunia?”

Pesan ketiga yang saya ambil dari film ini adalah : untuk mengubah dunia, kita tidak perlu menunggu menjadi tenar, kita tidak harus mempunyai kekuasaan, dan kita tidak butuh kekayaan yang berlimpah. Jika kita sudah mengetahuinya, maukah kita memulainya sekarang juga? Kita bisa mengubah dunia dengan tulisan mungkin?

Jika di novel dan film berjudul “Forrest Gump” kita mendapatkan gambaran bahwa dunia itu indah dari kaca mata seorang idiot, maka di film berjudul “Pay It Forward” kita dapat melihat dunia itu indah dari “sudut pandang” seorang anak berusia 11 tahun yang bernama Trevor McKinney. Walaupun di film itu, lingkungannya tidak mengharuskannya untuk berpikran seperti itu, Ricky McKinney (Jon Bon Jovi), Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi yang suka memukul perempuan, dan Arlene McKinney (Helen Hunt), ibunya seorang pemabuk, serta neneknya seorang tuna susila (lupa namanya, maklum sudah mulai pikun!). Itulah pesan keempat dan terakhir yang membuat saya menuliskan film ini dalam daftar film favorit saya.

Mungkin masih banyak pesan yang bisa diambil dari film ini, oleh sebab itu, diharapkan teman-teman memberikan masukan dan saran tentang tulisan ini. Minta maaf karena saya memakai bahasa resmi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment